MENGENAL AUTISME DAN TERAPINYA

Autisme berasal dari bahasa Yunani auto yang berarti “sendiri”, anak Autisme seolah-olah hidup di dunianya sendiri, mereka menghindari / tidak merespon terhadap kontak sosial dan lebih senang menyendiri. Walaupun penderita Autisme sudah ada sejak dulu, istilah Autisme baru diperkenalkan oleh Lee Kenner pada tahun 1943.

Pengertian Autisme
Autisme adalah gangguan dalam perkembangan neurologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi (berhubungan) dengan orang lain di sekitarnya secara wajar (Sutadi, 2002). Sedangkan menurut Sasanti (2004), Autisme adalah sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang sangat bervariasi dan berkaitan satu sama lain dan unik karena tidak sama untuk masing-masing kasus dan secara klinis sering ditemukan gejala yang bercampur baur atau tumpang tindih dengan gejala-gejala dari beberapa gangguan perkembangan yang lain maupun gangguan spesifik lainnya.

Gangguan Perkembangan pada Anak Autisme
Menurut Tjhin Wiguna (2004) anak Autisme mengalami gangguan yang menetap pada pola interaksi sosial, komunikasi yang menyimpang dan pola tingkah laku yang terbatas dan berulang (stereotipik) dan pada umumnya anak dengan gangguan Autisme ini mempunyai fungsi dibawah rata-rata. Adapun menurut Leo Kanner (1943), penyebab gangguan Autisme adalah adanya pengaruh psikogenik sebagai penybab terjadinya gangguan Autisme seperti orangtua yang emosional, kaku, dan obsesif dalam mengasuh anak mereka.

Anak Autis mengalami gangguan perkembangan yang biasanya disebut dengan istilah “Trias Autisme” yang meliputi:

a. Gangguan pada Kemampuan Interaksi Sosial, yang ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut:

o Kontak mata kurang, anak Autisme bila diajak bicara tidak mau menatap muka lawan bicara.
o Tidak selalu menegok bila dipanggil lebih suka bermain sendiri, anak Autisme sulit berinteraksi dengan teman sebayanya dalam bermain.
o Ekspresi wajahnya kurang hidup
o Sering menolak bila dipeluk
o Tidak tertarik pada mainan
o Bermain dengan benda-benda yang bukan mainan anak-anak
o Kadang-kadang anak ini suka melakukan ekspresi: menangis, tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab.



b. Gangguan pada Kemampuan Berkomunikasi dan Berbahasa
Dalam perkembangan berbahasa anak Autisme biasanya menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

o Kemampuan bicaranya terlihat terlambat dibanding anak seusianya
o Bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain
o Bila anak bisa bicara sering tidak mengerti arti kata yang diucapkannya
o Sulit bila diajak berdialog
o Echolalia (meniru perkataan orang lain) atau membeo
o Bila anak ingin sesuatu dia akan menarik tangan orang lain yang ada didekatnya dan diarahkan pada apa yang diinginkan
o Kemampuan bahasa isyaratnya tidak berkembang
o Tata bahasanya kacau

c. Gangguan pada Kemampuan Perilaku dan Minat
Perilaku merupakan segala sesuatu yang diekspresikan melalui perkataan dan perbuatan dan semuannya itu dapat kita lihat, rasakan, dan kita dengar baik olah diri sendiri atau orang lain. Banyak perilaku Autisme yang berbeda dari perilaku normal, disatu sisi ada perilaku yang berlebihan, disisi lain ada perilaku yang kurang, bahkan pada tahap yang hampir tidak ada.

Terapi Autisme
Terapi Autisme menurut Tjhin Wiguna (2002) adalah penatalaksanaan anak dengan gangguan Autisme secara terstruktur dan berkesinambungan untuk mengurangi masalah perilaku dan untuk meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan anak sesuai atau peling sedikit mendekati anan seusianya dan bersifat multi disiplin yang meliputi: (1) terapi perilaku berupa ABA (Applied Behaviour Analysis); (2) terapi biomedik (medikamentosa); (3) terapi tambahan lain yaitu, terapi wicara, terapi sensori integration, terapi musik, terapi diet, dll. Adapun tujuan dari terapi Autisme adalah mengurangi masalah perilaku dan meningkatkan kemampuan belajar serta meningkatkan perkembangan anak agar sesuai atau paling sedikit mendekati anak seusianya.

a. Terapi Perilaku
Terapi perilaku didasarkan atas proses belajar dan mempunyai tujuan mengubah perilaku yang tidak diinginkan menjadi perilaku yang diinginkan. Pada umumnya terapi perilaku ini ditujukan untuk dua hal yaitu : (1) mengurangi atau menghilangkan perilaku yang berlabihan (mengamuk, agresif, melukai diri sendiri, teriak-teriak, hiperaktif tanpa tujuan dan perilaku lain yang tidak bermanfaat); (2) akan memunculkan perilaku yang masih berkekurangan yaitu: belum bisa bicara, belum merespon bila diajak bicara, kontak mata yang kurang, tidak punya inisiatif, tidak bisa berinteraksi wajar dengan lingkungannya/kurang mampu bersosialisasi. (Sasanti, 2004;2)

Dibeberapa tempat terapi di Indonesia, umumnya dilakukan terapi perilaku yang menggabungkan berbagai metode menjadi suatu ramuan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kasus anak. Yang umum dipakai sebagai dasarnya adalah ABA yang dikembangkan oleh Dr. Ivar Lovaas dan dilaksanakan dengan cara DDT (Discrete Trial Training). Kurikulum dibuat secara sistematis oleh Catherine Maurice yang ditulis dalam buku Bahavioural Intervention for Young Children with Autism. A Manual for Parents and Professionals. Pro-Ed, Austin-Texas, 1996.

Ada beberapa tahapan dalam kurikulum tersebut diatas yaitu, tahap awal, tahap menengah dan tahap akhir. Tiap-tiap tahap terdiri dari enam kelompok kemampuan, yaitu: mengikuti tugas/pekerjaan, imitasi/meniru, bahasa reseptif, bahasa eksprisif, pre-akademik, dan bantu diri. Untuk tahap mahir dimasukkan kurikulum bahasa abstrak, akademik, serta kemampuan sosialisasi kesiapan masuk sekolah.

b. Terapi Biomedik
Berdasarkan temuan dari berbagai penelitian dalam bidang biologis, serta bukti-bukti yang didapat dari pemeriksaan laboratorium, maka terjadi perubahan paradigma dalam penanganan gangguan sprktrum Autisme. Paham yang sudah banyak diakui saat ini adalah bahwa GSA adalah sindrom yang komplek yang didasari atas adanya gangguan fisiologis serta biokimia yang mempengaruhi hasil akhir dalam gangguan kognitif, perilaku dan emosionalnya, maka gangguan biologisnya yang harus dibenahi. Ini merupakan filosofi dari terapi biomedik (Sasanti, 2004:3).

Terapi biomedik meliputi: (1) Pemberian obat-obatan (sesuai dengan gejala-gejala klinis/hasil laboratorium yang ditemukan). Juga bisa diberikan: psikotropika, antibiotik, anti jamur, anti virus, anti parasit; (2) Pengaturan diet tanpa pengawet, tanpa pewarna buatan, pengaturan makanan dengan cara eliminasi sementara dan rotasi, dll;(3) Pemberian Enzim pencernaan; (4) Pemberian Vitamin dan Mineral; (5) Asupan lain, misalnya asam lemak esensial, asam amino, antioksidan, probiotik, dll; (6) Perbaikan fungsi imunologi, sesuai dengan gangguannya; (7) Chelation (Pengeluaran logam berat).

c. Terapi Tambahan Lain
Termasuk disini adalah terapi sensori integrasi, terapi musik, terapi wicara, terapi okupasi, terapi seni, terapi relaksasi, akupuntur, dll. Pemilihan jenis terapi tambahan yang diperlukan untuk masing-masing anak tentu harus dipertimbangkan dengan seksama melihat dari gejala klinis yang menonjol serta target yang ingin dicapai.


IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan inklusi, para guru di sekolaah reguler/sekolah umum perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang anak dengan kebutuhan khusus atau sering juga disebut anak berkebutuhan khusus. Dengan mengetahui siapa yang disebut anak dengan kebutuhan khusus serta karakteristiknya, maka diharapkan guru mampu melakukan identifikasi terhadap mereka, baik yang sudah menjadi terdaftar sebagai peserta didik pada sekolah yang bersangkutan maupun yang belum masuk sekolah yang ada atau bertempat tinggal di sekitar sekolah. Dengan identifikasi yang tepat guru dapat memberikan bantuan pelayanan yang sesuai untuk mendukung dan menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
Anak dengan kebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasi dari kelompok anak pada umumnya, karena mereka memerlukan pelayanan pendidikan yang bersifat khusus. Pelayanan tersebut dapat berbentuk pertolongan medik, latihan-latihan therapeutic, maupun program pendidikan khusus, yang bertujuan untuk membantu mengurangi keterbatasannya dalam hidup bermasyarakat.
Dalam rangka mengidentifiksi (menemukan) anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan gradasi (tingkat) kelainan anak, diantaranya adalah kelainan fisik, mental intelektual, social, emosional. Di luar jenis kelainan tersebut terdapat anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa atau sering disebut sebagai anak yang memiliki kecerdasan dan bakat luar biasa. Masing-masing memiliki ciri dan tanda-tanda khusus atau karakteristik yang dapat digunakan oleh guru untuk menandai dalam rangka identifikasi anak dengan kebutuhan pendidikan khusus.
Buku Identifikasi Anak yang disertai Alat Identifikasi Anak dengan kebutuhan khusus (AI ALB) ini disusun untuk membantu guru dalam rangka pelaksanaan identifikasi anak berkebutuhan khusus. Alat ini daftar peryataan yang berisi gejala-gejala yang nampak pada anak untuk setiap jenis kelainan. Dengan mengamati gejala-gejala tersebut jika guru menemukan anak yang memiliki tanda-tanda mirip atau sama dengan gejala-gejala tertulis dalam alat/instrumen ini, dengan mudah guru dapat menandainya, dan jika secara kualitatif memenuhi standar miimal yang ditetapkan, maka anak tersebut dapat dikategorikan sebagai anak dengan kebutuhan khusus. Dengan alat identifikasi ini, secara sederhana dapat disimpulkan apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan. Tentu saja alat ini sifatnya masih sederhana, baru sebatas melihat gejala-gejala fisik yang nampak. Sedangkan untuk mendiagnosis yang sesungguhnya secara akurat, dibutuhkan tenaga profesional yang berwenang untuk itu, seperti dokter, psikolog, orthopedagog, dan sebagainya. Meskipun demikian jika sekolah tidak tersedia tenaga profesional dimaksud, dengan alat identifikasi ini, asal dilaksanakan dengan cermat dan hati-hati, sudah cukup untuk menetapkan seseorang berindikasi memerlukan layanan pendidikan khusus atau tidak.
Alat identifikasi ini dapat digunakan oleh orang-orang yang dekat (sering bergaul/berhubungan) dengan anak – seperti guru, orang tua, pengasuh – untuk menjaring kelompok anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar, baik yang sudah bersekolah maupun yang belum bersekolah atau yang sudah drop-out.


B. Tujuan Penulisan Buku
Setelah selesai membaca buku Identifikasi Anak dengan kebutuhan khusus ini, diharapkan pembaca (terutama para pembina dan pelaksana pendidikan di lapangan) mampu mengidentifikasi apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan, dan mampu merencanakan tindak lanjutnya.

II. ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS DAN IDENTIFIKASINYA
Untuk mengidentifikasi apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan, perlu terlebih dahulu dirumuskan pengertian anak dengan kebutuhan khusus, karakteristik (ciri-ciri) anak dengan kebutuhan khusus, baru kemudian dirumuskan hal-hal yang berkaitan dengan identifikasi.

A. Pengertian Anak dengan kebutuhan khusus
Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi kelainan/penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.
Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan menjadi 9 jenis. Berdasarkan berbagai studi, ke 9 jenis ini paling sering dijumpai di sekolah-sekolah reguler. Jika di luar 9 jenis tersebut masih dijumpai di sekolah, maka guru dapat bekerjasama dengan pihak lain yang relevan untuk menanganinya, seperti anak-anak autis, anak korban narkoba, anak yang memiliki penyakit kronis, dan lain-lain. Secara singkat masing-masing jenis kelainan dijelaskan sebagai berikut :

1. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan
Tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran
Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
3. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
4. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
Anak berbakat adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi), kreativitas, dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
5. Tunagrahita
Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.
6. Lamban belajar (slow learner) :
Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
Anak yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti)
8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi;
Anak yang mengalami gangguan komunikasi adalah anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan.
9. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.
Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya.

B. Karakteristik Anak dengan kebutuhan khusus
Setiap anak dengan kebutuhan khusus memiliki karakteristik (ciri-ciri) tertentu yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk keperluan identifikasi, di bawah ini akan disebutkan ciri-ciri yang menonjol dari masing-masing jenis anak dengan kebutuhan khusus.
1. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan
a. a. Tidak mampu melihat
b. b. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
c. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
d. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
e. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
f. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
g. Peradangan hebat pada kedua bola mata,
h. Mata bergoyang terus.
Nilai standar : 4 (di luar a dan b), maksudnya, jika a dan b terpenuhi, maka tidak perlu menghitung urutan berikutnya.
2. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran
a. Tidak mampu mendengar,
b. Terlambat perkembangan bahasa
c. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
d. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara
e. Ucapan kata tidak jelas
f. Kualitas suara aneh/monoton,
g. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar
h. Banyak perhatian terhadap getaran,
i. Keluar cairan ‘nanah’ dari kedua telinga
Nilai Standar : 6 (di luar a), maksudnya jika a terpenuhi, maka berikutnya tidak perlu dihiung.
3. Tunadaksa/anak yang mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
a. Anggauta gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
b. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
c. Terdapat bagian anggauta gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
d. Terdapat cacat pada alat gerak,
e. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
f. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal
g. Hiperaktif/tidak dapat tenang.
Nilai Standar : 5
4. Anak Berbakat/ memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
a. Membaca pada usia lebih muda,
b. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
c. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
d. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
e. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
f. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
g. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
h. Memberi jawaban-jawaban yang baik,
i. Dapat memberikan banyak gagasan
j. Luwes dalam berpikir
k. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
l. Mempunyai pengamatan yang tajam,
m. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati,
n. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
o. Senang mencoba hal-hal baru,
p. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
q. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan-pemecahan masalah,
r. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
s. Berperilaku terarah pada tujuan,
t. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
u. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
v. Mempunyai daya ingat yang kuat,
w. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
x. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
y. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
Nilai Standar : 18
5. Tunagrahita
a. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/ besar,
b. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
c. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
d. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
e. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
f. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler)
Nilai Standar : 6
6. Anak Lamban Belajar
a. Rata-rata prestasi belajarnya selalu rendah (kurang dari 6),
b. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
c. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
d. Pernah tidak naik kelas.
Nilai Standar : 4
7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
• Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
a. Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
b. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
c. Kalau membaca sering banyak kesalahan
Nilai standarnya 3
• Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)
a. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
b. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
c. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
d. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
e. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
Nilai standarnya 4.
• Anak yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
a. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
b. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
c. Sering salah membilang dengan urut,
d. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
e. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
Nilai standarnya 4.
8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi
a. Sulit menangkap isi pembicaraan orang lain,
b. Tidak lancar dalam berbicaraa/mengemukakan ide,
c. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
d. Kalau berbicara sering gagap/gugup,
e. Suaranya parau/aneh,
f. Tidak fasih mengucapkan kata-kata tertentu/celat/cadel,
g. Organ bicaranya tidak normal/sumbing.
Nilai standarnya 5.

9. Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku).
a. Bersikap membangkang,
b. Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah
c. Sering melakukan tindakan aggresif, merusak, mengganggu
d. Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.
Nilai standarnya 4.

C. Identifikasi
Istilah identifikasi secara harfiah dapat diartikan menemukan atau menemukenali. Dalam buku ini istilah identifkasi anak dengan kebutuhan khusus dimaksudkan merupakan suatu usaha seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional/tingkah laku) dalam pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal).
Setelah dilakukan identifikasi, kondisi seseorang dapat diketahui, apakah pertumbuhan/perkembangannya termasuk normal atau mengalami kelainan/penyimpangan.
Bila mengalami kelainan/penyimpangan, dapat diketahui pula apakah anak tergolong: (1) Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan; (2) Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran; (3) Tunadaksa/anak yang mengalami kelainan angota tubuh/gerakan); (4) Anak Berbakat/anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa; (5) Tunagrahita; (6) Anak lamban belajar; (7) Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, atau diskalkulia); (8) Anak yang mengalami gangguan komunikasi; dan (9) Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.
Kegiatan identifikasi sifatnya masih sederhana dan tujuannya lebih ditekankan pada menemukan (secara kasar) apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan. Maka biasanya identifikasi dapat dilakukan oleh orang-orang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak yang terkait dengannya. Sedangkan langkah berikutnya, yang sering disebut asesmen, bila diperlukan dapat dilakukan oleh tenaga profesional, seperti dokter, psikolog, neurolog, orthopedagog, therapis, dan lain-lain.
Dalam istilah sehari-hari, identifikasi sering disebut dengan istilah penjaringan, sedangkan asesmen disebut dengan istilah penyaringan.

D. Tujuan Identifikasi
Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional, dan/atau sensoris neurologis) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal), yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: (1) penjaringan (screening), (2) pengalihtanganan (referal), (3) klasifikasi, (4) perencanaan pembelajaran, dan (5) pemantauan kemajuan belajar.

1. Penjaringan (screening)
Penjaringan dilakukan terhadap semua anak di kelas dengan Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (AI AKB) terlampir.
Pada tahap ini identifiksi berfungsi menandai anak-anak mana yang menunjukkan gejala-gejala tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang mengalami kelainan/penyimpangan tertentu, sehingga tergolong anak dengan kebutuhan khusus.
Dengan AI ALB guru, orang tua, maupun tenaga professional terkait, dapat melakukan kegiatan ini secara baik dan hasilnya dapat digunakan untuk bahan penanganan lebih lanjut.

2. Pengalihtanganan (referral)
Berdasarkan gejala-gejala yang ditemukan pada tahap penjaringan, selanjutnya anak-anak dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, ada anak yang tidak perlu dirujuk ke ahli lain (tenaga profesional) dan dapat langsung ditangani sendiri oleh guru dalam bentuk layanan pembelajaran yang sesuai.
Kedua, ada anak yang perlu dirujuk ke ahli lain terlebih dulu (referal) seperti psikolog, dokter, orthopedagog (ahli PLB), dan/atau therapis, baru kemudian ditangani oleh guru.
Proses perujukan anak oleh guru ke tenaga professional lain untuk membantu mengatasi masalah anak yang bersangkutan disebut proses pengalihtanganan (referral). Jika tenaga professional tersebut tidak tersedia dapat dimintakan bantuan ke tenaga lain yang ada seperti Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) atau Konselor.
3. Klasifikasi
Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk menentukan apakah anak yang telah dirujuk ke tenaga professional benar-benar memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan pendidikan khusus.Apabila berdasar pemeriksaan tenaga professional ditemukan masalah yang perlu penanganan lebih lanjut (misalnya pengobatan, therapy, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan. Jadi guru tidak mengobati dan/atau memberi therapy, melainkan sekedar meneruskan kepada orang tua tentang kondisi anak yang bersangkutan. Guru hanya akan membantu siswa dalam hal pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan kondisi anak. Apabila tidak ditemukan tanda-tanda yang cukup kuat bahwa anak yang bersangkutan memerlukan penanganan lebih lanjut, maka anak dapat dikembalikan ke kelas semula untuk mendapatkan pelayanan pendidikan khusus.
Kegiatan klasifikasi ini memilah-milah mana anak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan mana yang langsung dapat mengikuti pelayanan pendidikan khusus di kelas reguler.
4. Perencanaan pembelajaran
Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk keperluan penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI). Dasarnya adalah hasil dari klasifikasi. Setiap jenis dan gradasi (tingkat kelainan) anak dengan kebutuhan khusus memerlukan program pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Mengenai program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI) akan dibahas secara khusus dalam buku yang lain tentang pembelajaran dalam pendidikan inklusi.
5. Pemantauan kemajuan belajar
Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil atau tidak. Apabila dalam kurun waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau lagi beberapa aspek yang berkaitan. Misalnya apakah diagnosis yang kita buat tepat atau tidak, Program Pembelajaran Individual (PPI) yang kita susun sesuai atau tidak, bimbingan belajar khusus yang kita berikan sesuai atau tidak, dan seterusnya.
Sebaliknya, apabila dengan program khusus yang diberikan, anak mengalami kemajuan yang cukup signifikan maka program tersebut perlu diteruskan sambil memperbaiki/menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada.
Dengan lima tujuan khusus di atas, identifikasi perlu dilakukan secara terus menerus oleh guru, dan jika perlu dapat meminta bantuan dan/atau bekerja sama dengan tenaga professional terkait.

III. PELAKSANAAN IDENTIFIKASI
A. Sasaran Identifikasi
Secara umum sasaran identifikasi anak dengan kebutuhan khusus adalah seluruh anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar. Sedangkan secara khusus (operasional), sasaran identifikasi anak dengan kebutuhan khusus adalah:
1. Anak yang sudah bersekolah di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
2. Anak yang akan masuk ke Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
3. Anak yang belum/tidak bersekolah karena orangtuanya merasa anaknya tergolong anak dengan kebutuhan khusus sedangkan lokasi SLB jauh dari tempat tinggalnya; sementara itu, semula SD terdekat belum/tidak mau menerimanya;
4. Anak yang drop-out Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah karena factor akademik.

B. Petugas Identifikasi
Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:
1. Guru kelas;
2. Orang tua anak; dan/atau
3. Tenaga professional terkait.



C. Pelaksanaan Identifikasi
Ada beberapa langkah dalam rangka pelaksanaan identifikasi anak berkebutuhan khusus. Untuk identifikasi anak usia sekolah yang belum bersekolah atau drop out sekolah, maka sekolah yang bersangkutan perlu melakukan pendataan ke masyarakat sekitar kerjasama dengan Kepala Desa/Lurah, RT, RW setempat. Jika pendataan tersebut ditemukan anak berkelainan, maka proses berikutnya dapat dilakukan pembicaraan dengan orangtua, komite sekolah maupun perangkat desa setempat untuk mendapatkan tindak lanjutnya.
Untuk anak-aak yang sudah masuk dan menjadi siswa pada sekolah tertentu, identifikasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menghimpun data tentang anak
Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi seluruh siswa di kelas (berdasar gejala yang nampak pada siswa) dengan menggunakan Alat Identifikasi Anak dengan kebutuhan khusus (AI ALB). Lihat Format 3 terlampir.
2. Menganalisis data dan mengklasifikasi anak
Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan anak-anak yang tergolong anak dengan kebutuhan khusus (yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yaang diindikasikan berkelainan sesuai dengan ciri-ciri dan standar nilai yang telah ditetapkan. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukkan ke dalam daftar nama-nama anak yang berindikasi kelainan sesuai dengan format khusus yang disediakan seperti terlampir (Lihat Format 4). Sedangkan untuk anak-anak yang tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukkan ke dalam daftar khusus tersebut.
3. Mengadakan pertemuan konsultasi dengan kepala sekolah
Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapat saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.
4. Menyelenggarakan pertemuan kasus (case conference)
Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah setelah data anak dengan kebutuhan khusus terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan: (1) Kepala Sekolah sendiri; (2) Dewan Guru; (3) orang tua/wali siswa; (4) tenaga professional terkait, jika tersedia dan dimungkinkan; (5) Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) jika tersedia dan memungkinkan.
Materi pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari masing-masing guru mengenai hasil identifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara pemecahan serta penanggulangannya.
5. Menyusun laporan hasil pertemuan kasus
Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil pertemuan kasus. Format laporan hasil pertemuan kasus dapat menggunakan contoh seperti terlampir (lihat Format 5)

D. ALAT IDENTIFIKASI
Secara sederhana ada beberapa aspek informasi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Contoh alat identifikasi sederhana untuk membantu guru dan orang tua dalam rangka menemukenali anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus, antara lain sebagai berikut :
1. Form 1 : Informasi riwayat perkembangan anak
2. Form 2 : informasi/ data orangtua anak/wali siswa
3. Form 3 : informasi profil kelainan anak (AI-ALB)
Dari ketiga informasi tersebut secara singkat dijelaskan sebagai berikut.
1. Informasi riwayat perkembangan anak
Informasi riwayat perkembangan anak adalah informasi mengenai keadaan anak sejak di dalam kandungan hingga tahun-tahun terakhir sebelum masuk SD/MI.. Informasi ini penting sebab dengan mengetahui latar belakang perkembangan anak, mungkin kita dapat menemukan sumber penyebab problema belajar.
Informasi mengenai perkembangan anak sangat penting bagi guru untuk mempertimbangkan kebijakan program pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Informasi perkembangan anak biasanya mencakup identitas anak, riwayat masa kehamilan dan kelahiran, perkembangan masa balita, perkembangan fisik, perkembangan sosial, dan perkembangan pendidikan.
Riwayat masa kehamilan dan kelahiran meliputi perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu, usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelahiran, penolong persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, panjang badan bayi, dan tanda-tanda kelainan pada bayi.
Perkembangan masa balita sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai lama menyusu ibunya, usia akhir minum susu kaleng, kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya.
Perkembangan fisik diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak, berdiri, berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat lengkap, kesulitan gerakan yang dialami, status gizi balita, dan riwayat kesehatan.
Perkembangan sosial terutama berkaitan dengan hubungan dengan saudara, hubungan dengan teman, hubungan dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan minat khusus. Perkembangan pendidikan meliputi informasi mengenai kapan masuk TK, berapa lama pendidikan di TK, kapan masuk SD, apa kesulitan selama di TK, apa kesulitan selama di SD, apakah pernah tinggal kelas, pelayanan khusus yang pernah diberikan, prestasi belajar tiap caturwulan atau semester, mata pelajaran yang dirasa paling sulit, dan mata pelajaran yang paling disenangi.
2. Data orang tua/wali siswa
Selain data mengenai anak, tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali siswa yang bersangkutan. Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan belajar anak. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua terhadap anak, serta pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.
Data orang tua/wali siswa sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali, hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi orang tua, serta tanggungan dan tanggapan orang tua/ keluarga terhadap anak. Identitas orang tua harus lengkap, tidak hanya identitas ayah melainkan juga identitas ibu, misalnya umur, agama, status, pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal.
Hubungan orang tua-anak menggambarkan sejauh mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak. Misalnya apakah kedua orang tua satu rumah atau tidak, demikian juga dengan anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau keluarga lain. Semua kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar anak.
Mengenai data keadaan sosial ekonomi diperlukan agar sekolah dapat memperhitungkan kemampuan orang tua dalam pendidikan anaknya. Data sosial ekonomi dapat mencakup informasi mengenai jabatan formal maupun non formal ayah dan ibu, serta besarnya penghasilan rata-rata per bulan.
Sedangkan mengenai tanggapan orang tua yang perlu diungkapkan antara lain persepsi orang tua terhadap anak, kesulitan yang dirasakan orang tua terhadap anak yang bersangkutan, harapan orang tua dan bantuan yang diharapkan orang tua untuk anak yang bersangkutan.

3. Informasi mengenai profil kelainan anak (AI – ALB)
Informasi mengenai gangguan/kelainan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa SD dari empat provinsi di Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31% gangguan komunikasi, 7,9% cacat / kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6% gangguan penglihatan, dan 2% gangguan pendengaran (Balitbang, 1996).
Tanda-tanda kelainan atau gangguan khusus pada siswa (jika ada) perlu diketahui guru. Kadang-kadang adanya kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung, dapat menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini sangat bergantung pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap penerimaan anak terhadap kondisi tersebut.
Contoh format isian untuk identifikasi anak berkelainan yang dapat digunakan oleh sekolah.

E. TINDAK LANJUT KEGIATAN IDENTIFIKASI
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan identifikasi anak berkelainan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, maka dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:
1. Perencaanaan pembelajaran dan pengorganisasian siswa
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan bidang-bidang atau aspek problema belajar yang akan ditangani: Apakah seluruh mata pelajaran, sebagian mata pelajaran, atau hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran.
b. Menetapkan pendekatan pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah bentuknya berupa pelajaran remedial, penambahan latihan-latihan di dalam kelas atau luar kelas, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain- lain.
c. Menyusun program pembelajaran individual.
2. Pelaksanaan pembelajaran
Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan dalam kelas reguler sesuai dengan rancangan yang telah disusun dan ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sudah tentu pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru. Program tersebut bersifat fleksibel.
3. Pemantauan kemajuan belajar dan evaluasi
Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak. Jika anak mengalami kemajuan dalam belajar, pendekatan yang dipilih guru perlu terus dimantapkan, tetapi jika tidak terdapat kemajuan, perlu diadakan peninjauan kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya semua problema belajar anak, secara bertahap dapat diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau bahkan putus sekolah.

MEMAHAMI PETA TOPOGRAFI

A.MEMBACA GARIS KONTUR
Punggungan Gunung
Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U dimana Ujung dari huruf U menunjukan tempat atau daerah yang lebih pendek dari kontur diatasnya.
Lembah atau Sungai
Lembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik) dengan Ujung yang Tajam.
Daerah landai datar dan terjal curam
Daerah datar/landai garis konturnya jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis konturnya rapat.


B. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR
Pada peta skala 1:50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan:

Cari dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misalnya titik A dan B
Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B)
Hitung jumlah kontur antara A dan B
Bagilah selisih ketinggian antara A-B dengan jumlah kontur antara A-B hasilnya adalah interval kontur.

C. UTARA PETA
Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama-tama carilah utara peta tersebut. selanjutnya lihat judul peta (judul peta selalu berada pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.

D. MENGENAL TANDA MEDAN
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan orientasi harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:

Lembah antara dua puncak
Lembah yang curam
Persimpangan jalan atau ujung desa
Perpotongan sungai dengan jalan setapak
Percabangan da kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain
Untuk daerah yang datar dapat digunakan, persimpangan jalan dan percabangan sungai, jembatan dan lain-lain.

E. MENGGUNAKAN PETA
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelum berjalan catatlah:

Koordinat titik awal (A)
Koordinat titik tujuan (B)
Sudut peta antara A - B
Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A - B
Berapa panjang lintasan antara A - B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A - B
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah.

Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta
Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan peta
Gunakan kompas untuk melihat arah kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
Perkirakan berapa jarak lintasan. Misalnya, medan datar 5 km ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lainnya-lainnya.
Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuatkan lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.

F. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA
Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tanda-tanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Camp berada pada koordinat titik A (3989 : 6360) + 1400 m dpl. Basecamp memerintahkan tim Camp agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 m dpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimulai dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tarik garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A - T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan sistem Azimuth (0" - 360°) searah putaran jarum jam. Sudut ini berguna untuk mengorientasikan arah dari A ke T.
Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipahami betul bentuk garis-garis kontur. Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh:
Kemiringan lereng dan Panjang lintasan
Keadaan dan kondisi medan (misalnya hutan lebat, semak berduri atau pasir)
Keadaan cuaca rata-rata
Waktu pelaksanaan (pagi, siang atau malam)
Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.

G. MEMBACA KOORDINAT
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:

Cara koordinat peta
Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukan koordinat ini meggunakan:
Sistem Enam Angka, misalnya: koordinat titik A (374:622), titik B (377:461)
Cara Delapan Angka, misalnya: koordinat titik A (3740:6225), titik B (3376:4614)
Cara Koordinat Geografis
Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 44' 27,79". Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.

H. SUDUT PETA
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam. Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem azimuth (0° - 360°). Sistem Azimuth adalah sistem yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai dengan arah jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan. Sistem perhitungan sudut dibagi menjadi dua berdasarkan sudut kompasnya.

I. AZIMUTH SUDUT KOMPAS
Back azimuth: bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila sudut kompas < 1080 =" 37,1km" km =" 3.710.000" 1km =" 3.710.000" 000 =" 74,2" 1 =" 1.855.000cm">

SURVIVAL SKILL

Survival adalah teknik keterampilan seseorang bisa gunakan untuk membantu orang lain atau orang dalam situasi berbahaya seperti bencana alam. Secara umum, teknik ini dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia: air , makanan , tempat tinggal , habitat , dan kebutuhan untuk berpikir jernih, untuk sinyal untuk membantu, untuk menavigasi aman, untuk menghindari interaksi yang tidak menyenangkan dengan hewan dan tumbuhan, dan untuk pertolongan pertama . Selain itu, keterampilan bertahan hidup seringkali ide-ide dan kemampuan dasar manusia kuno yang harus digunakan untuk ribuan tahun, sehingga keterampilan ini sebagian pemeragaan sejarah. Banyak keterampilan ini adalah cara untuk menikmati waktu yang lama di tempat-tempat terpencil, atau cara untuk berkembang di alam. Beberapa orang menggunakan keterampilan ini untuk lebih menghargai alam dan untuk rekreasi, bukan hanya bertahan hidup.
Nenek moyang kita berada di survivalists kenyataan karena mereka mandiri. Mereka bertanggung jawab untuk perlindungan diri sendiri dan keluarga,, kesehatan, dan makanan serta tempat berlindung. Inilah yang nenek moyang kita tahu dan hidup setiap hari. Mereka siap untuk apa hidup ini melalui perencanaan, belajar, dan mempersiapkan untuk masa depan yang mungkin ... Melalui pendidikan kita dapat mengajar orang bagaimana untuk bertahan lebih dari satu hari pada satu waktu. Kita bisa mengajarkan mereka cara makan sendiri dan keluarga mereka untuk hidup, bersiaplah untuk masa depan yang tidak diketahui dan seni dasar kelangsungan hidup manusia yang akan disisipkan di bagi generasi mendatang.
keterampilan tersebut disajikan sebagai berguna dalam situasi seperti badai atau gempa bumi atau di lokasi yang berbahaya seperti padang pasir, pegunungan, dan hutan. Setiap situasi yang berbeda atau lokasi dikatakan untuk menyajikan berbagai bahaya yang berbeda - (lihat bahaya aktivitas luar ruang ). Teknik untuk menyesuaikan situasi sebagian besar disarankan oleh sumber pada topik.
sumber-sumber sekunder pada keterampilan hidup, termasuk yang diproduksi oleh Angkatan Darat Amerika Serikat [2] , dan Boy Scouts of America (prioritas bagi seorang individu atau kelompok dalam situasi survival) [3] , merumuskan daftar kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup.
Kebutuhan untuk kelangsungan hidup berbeda dikonseptualisasikan antara sumber, mereka mungkin memberikan enam, atau tujuh, atau sepuluh "kebutuhan" atau "prioritas." Selain itu, sumber-sumber sering berbeda mengenai prioritas relatif dari kebutuhan hidup dalam situasi hidup yang diberikan. Beberapa sumber menyatakan mengakui apa yang tampak nyata: bahwa urutan prioritas kebutuhan hidup bergeser sesuai dengan situasi yang dihadapi langsung. [4]
Salah satu konsep beredar luas untuk membantu prioritas disebut " Hukum Tiga ": [5] Menggunakan sebuah mnemonic perangkat, Hukum Tiga negara:
1. Manusia tidak bisa bertahan lebih dari tiga jam dalam suhu yang sangat tinggi atau rendah.
2. Manusia tidak bisa bertahan lebih dari 6 hari tanpa air.
3. Manusia tidak bisa bertahan lebih dari sembilan hari tanpa makanan.
Hukum Tiga seringkali dinyatakan dirumuskan dan dipandang oleh komentator sebagai panduan kasar. Sebuah dilaporkan berlangsung 8 hari tanpa air di liferaft sebuah [6] . Orang-orang bertahan hidup tanpa makanan selama lebih dari dua puluh satu hari.
Pada tahun 1998, Alaska pemadam kebakaran Robert Bogucki bertahan selama 12 hari tanpa air dan 36 hari dengan hampir tidak ada makanan [7] di Great Sandy Desert , Australia Barat ,
Pramuka, di samping daftar tujuh prioritas, menggunakan perangkat mnemonik, "STOP", untuk menangani aspek-aspek mental untuk bertahan hidup. "STOP" stands for "Stop, Think, Observe, Plan." [ 8 ] "STOP" singkatan dari "Stop, Think, Amati, Rencana". [8]
Contents Isi
[hide]
• 1 Shelter 1 Shelter
• 2 Fire 2 Kebakaran
• 3 Water 3 Air
• 4 First aid 4 Pertama bantuan
• 5 Navigation 5 Navigasi
• 6 Training 6 Pelatihan
• 7 Mental preparedness 7 Mental kesiapan
• 8 Survival manuals 8 Survival manual
• 9 See also 9 Lihat pula
• 10 References 10 Referensi
• 11 External links 11 Pranala luar

Shelter / Tempat Tinggal
Penerbang dari Angkatan Udara Amerika Serikat membangun sebuah tempat penampungan bertahan hidup selama Arktik Survival Training di Alaska .
Shelter adalah suatu hal yang melindungi seseorang dari lingkungannya sendiri, termasuk berbahaya dingin dan panas dan memungkinkan tidur nyenyak, kebutuhan manusia lain.
Sebuah tempat penampungan dapat berkisar dari alam tempat penampungan ""; seperti gua atau jatuh-down (retak tapi tidak split)-foliaged pohon tebal, untuk bentuk peralihan dari buatan manusia penampungan seperti tempat penampungan sampah, selokan digali berikutnya untuk log pohon dan ditutupi dengan dedaunan, atau gua salju , untuk sepenuhnya buatan manusia struktur seperti terpal , tenda , atau rumah .

Fire / Api
pembuatan api
Kemampuan untuk memulai dikendalikan api diakui dalam sumber-sumber untuk secara signifikan meningkatkan kemampuan untuk bertahan secara fisik dan mental. Keterampilan yang dibutuhkan untuk menyalakan api tanpa korek api atau korek api, seperti dengan menggunakan batu alam dan baja dengan rabuk , adalah subjek sering dari kedua buku tentang bertahan hidup dan kelangsungan hidup program. Ada penekanan pada berlatih keterampilan membuat api sebelum merambah ke padang gurun.
Api disajikan sebagai pertemuan alat kebutuhan hidup banyak. Yang panas yang disediakan oleh api memungkinkan tubuh menjadi hangat, pakaian basah menjadi kering, air harus didesinfeksi, dan makanan untuk dimasak. Tidak untuk dilupakan adalah meningkatkan psikologis dan rasa aman dan perlindungan itu memberi. Kebakaran dapat mencegah binatang liar dan Cahaya dan asap yang dipancarkan oleh api juga bisa digunakan untuk bekerja pada malam hari dan dapat sinyal penyelamatan unit.

Water / Air
Seorang manusia dapat bertahan hidup rata-rata tiga sampai lima hari tanpa asupan air, dengan asumsi tingkat ketinggian laut, suhu kamar dan kelembaban relatif menguntungkan. [9] Pada suhu dingin atau hangat, kebutuhan air lebih besar. Need for water also increases with exercise. Kebutuhan air juga meningkat dengan olahraga.
A typical person will lose 2-3 litres of water per day under ordinary conditions, and more in hot, dry, or cold weather. Orang biasa akan kehilangan 2-3 liter air per hari di bawah kondisi biasa, dan banyak lagi di tempat yang panas, kering, atau cuaca dingin. Four to six litres of water or other liquids are generally required each day in the wilderness to avoid dehydration and to keep the body functioning properly. [ 10 ] The US Army survival manual recommends that you drink water whenever thirsty. [ 11 ] [ 12 ] Other groups recommend rationing water through "water discipline". [ 13 ] Empat sampai enam liter air atau cairan lainnya umumnya diperlukan setiap hari di padang gurun untuk menghindari dehidrasi dan untuk menjaga tubuh berfungsi dengan baik. [10] Tentara AS manual survival menganjurkan agar Anda minum air ketika haus. [11] [12] Kelompok-kelompok lain merekomendasikan penjatahan air melalui "disiplin air". [13]
A lack of water causes dehydration , which may result in lethargy, headaches, dizziness, confusion, and eventually death. Kurangnya air menyebabkan dehidrasi , yang dapat mengakibatkan kelesuan, sakit kepala,, kebingungan, dan akhirnya mati pusing. Even mild dehydration reduces endurance and impairs concentration, which is dangerous in a survival situation where clear thinking is essential. Bahkan dehidrasi ringan mengurangi daya tahan dan mengganggu konsentrasi, yang berbahaya dalam situasi hidup di mana pemikiran yang jernih sangat penting. Dark yellow or brown urine is a diagnostic indicator of dehydration. urin kuning atau coklat gelap adalah sebuah indikator diagnostik dehidrasi. To avoid dehydration, a high priority is typically assigned to locating a supply of drinking water and making provision to render that water as safe as possible. Untuk menghindari dehidrasi, prioritas tinggi biasanya ditugaskan untuk mencari pasokan air minum dan membuat penyediaan untuk membuat air yang seaman mungkin.
Many sources in survival literature, as well as forums and online references, list the ways in which water may be gathered and rendered safer for consumption in a survival situation, such as boiling, filtering, chemicals, solar radiation + heat/SODIS, and distillation. Banyak sumber-sumber dalam literatur kelangsungan hidup, serta forum dan referensi online, daftar cara-cara di mana air dapat dikumpulkan dan diberikan lebih aman untuk konsumsi dalam situasi hidup, seperti perebusan, penyaringan, bahan kimia, radiasi matahari panas + / SODIS, dan penyulingan . Such sources also often list the dangers, such as pollutants, microorganisms, or pathogens which affect the safety of back country water. sumber tersebut juga sering daftar bahaya, seperti polusi, mikroorganisme, atau patogen yang mempengaruhi keamanan air negara kembali.
Recent thinking is that boiling or commercial filters are significantly safer than use of chemicals, with the exception of chlorine dioxide . [ 14 ] [ 15 ] [ 16 ] berpikir baru-baru ini yang mendidih atau filter komersial secara signifikan lebih aman daripada penggunaan bahan kimia, dengan pengecualian klorin dioksida . [14] [15] [16]
The issues presented by the need for water dictate that unnecessary water loss by perspiration be avoided in survival situations. Masalah-masalah yang disajikan oleh kebutuhan untuk air mendikte bahwa kehilangan air yang tidak perlu dengan keringat dihindari dalam situasi survival.
To thus avoid these problems, culinary root tubers , fruit , edible mushrooms , edible nuts, edible beans, edible cereals or edible leaves , edible moss , edible cacti and algae can be searched and if needed, prepared (mostly by boiling). Untuk sehingga menghindari masalah ini, umbi akar kuliner , buah , jamur , kacang goreng, kacang goreng, sereal dimakan atau daun dapat dimakan , dimakan lumut , kaktus dimakan dan ganggang dapat dicari dan jika diperlukan, disiapkan (kebanyakan oleh mendidih). With the exception of leaves, these foods are relatively high in calories, providing some energy to the body. Dengan pengecualian daun, makanan ini relatif tinggi kalori, menyediakan beberapa energi untuk tubuh. Plants are some of the easiest food sources to find in the jungle, forest or desert because they're stationary and can thus be had without exerting much effort. [ 17 ] Tanaman adalah beberapa sumber makanan yang paling mudah untuk mencari di hutan, hutan atau gurun karena mereka diam dan dengan demikian dapat memiliki tanpa mengerahkan banyak usaha. [17]
Also, many commentators discuss the knowledge, skills, and equipment (such as bows, snares and nets) necessary to gather animal food in the wild through animal trapping , hunting , fishing . Juga, banyak komentator membahas pengetahuan, keterampilan, dan peralatan (seperti busur, jerat dan jaring) yang diperlukan untuk mengumpulkan makanan hewan di alam liar melalui penangkapan hewan , berburu , memancing .
Some survival books promote the "Universal Edibility Test" [ 18 ] . Beberapa buku kelangsungan hidup mempromosikan "Universal sifat dpt dimakan Test" [18] . Allegedly, one can distinguish edible foods from toxic ones by a series of progressive exposures to skin and mouth prior to ingestion, with waiting periods and checks for symptoms. Konon, seseorang dapat membedakan makanan yang dimakan dari racun dengan serangkaian paparan progresif pada kulit dan mulut sebelum menelan, dengan masa menunggu dan memeriksa gejala. However, many other experts including Ray Mears and John Kallas [ 19 ] reject this method, stating that even a small amount of some "potential foods" can cause physical discomfort, illness, or death. Namun, para pakar lainnya termasuk Ray Mears dan John Kallas [19] menolak metode ini, menyatakan bahwa sejumlah kecil dari beberapa "makanan potensial" dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik, sakit, atau kematian. An additional step called the scratch test is sometimes included to evaluate the edibility of a potential food. Sebuah langkah tambahan yang disebut tes awal kadang-kadang termasuk untuk mengevaluasi sifat dpt dimakan dari makanan potensial.
Focusing on survival until rescued by presumed searchers, The Boy Scouts of America especially discourages foraging for wild foods on the grounds that the knowledge and skills needed are unlikely to be possessed by those finding themselves in a wilderness survival situation, making the risks (including use of energy) outweigh the benefits. [ 20 ] Berfokus pada kelangsungan hidup sampai diselamatkan oleh pencari diduga, The Boy Scouts of America terutama discourages makan untuk makanan liar atas dasar bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan tidak mungkin dimiliki oleh orang-orang menemukan dirinya dalam situasi survival padang gurun, membuat risiko (termasuk penggunaan energi) lebih besar daripada manfaat. [20]
On hot days you can survive without water for 2 days Pada hari-hari yang panas Anda dapat bertahan hidup tanpa air selama 2 hari
[ edit ] First aid [ sunting ] pertolongan pertama
First aid ( wilderness first aid in particular) can help a person survive and function with injuries and illnesses that would otherwise kill or incapacitate him/her. pertolongan pertama ( padang gurun pertolongan pertama khususnya) dapat membantu seseorang bertahan hidup dan fungsi dengan beberapa luka dan penyakit yang kalau tidak akan membunuh atau melumpuhkan dirinya. Common and dangerous injuries include: cedera umum dan berbahaya termasuk:
• Lacerations , which may become infected Luka , yang mungkin menjadi terinfeksi
• Bites or stings from venomous animals , such as: snakes, scorpions, spiders, bees, stingrays, jellyfish, catfish, stargazers, etc. Gigitan atau sengatan dari berbisa hewan, seperti: ular, kalajengking, laba-laba, lebah, ikan pari, ubur-ubur, ikan patin, stargazers, dll
• Bites leading to disease/septicemia , such as: mosquitoes, fleas, ticks, animals infected with rabies, sand flies, komodo dragons, crocodilians, etc. Gigitan menyebabkan penyakit / septikemia, seperti: nyamuk, kutu, kutu, binatang yang terinfeksi dengan rabies, lalat pasir, komodo naga, crocodilians, dll
• Infection through food, animal contact, or drinking non-potable water Infeksi melalui makanan, hewan kontak, atau minum-minum air non
• Bone fractures Patah tulang
• Sprains , particularly of the ankle Terkilir , terutama pada pergelangan kaki
• Burns Burns
• Poisoning from consumption of, or contact with, poisonous plants or poisonous fungi . Keracunan dari konsumsi, atau kontak dengan, tumbuhan beracun atau beracun jamur .
• Hypothermia (too cold) and hyperthermia (too hot) Hipotermia (terlalu dingin) dan hipertermia (terlalu panas)
• Heart attack Serangan jantung
• Hemorrage Hemorrage
The survivor may need to apply the contents of a first aid kit or, if possessing the required knowledge, naturally-occurring medicinal plants, immobilize injured limbs, or even transport incapacitated comrades. selamat mungkin perlu menerapkan isi sebuah kit pertolongan pertama atau, jika yang memiliki pengetahuan yang diperlukan, alami tanaman obat, melumpuhkan kaki terluka, atau bahkan tidak mampu transportasi kawan-kawan.
[ edit ] Navigation [ sunting ] Navigasi


These two pictures of the same tree trunk in the Northern Hemisphere are an example of a navigational terrain feature. Kedua gambar batang pohon yang sama di belahan bumi utara merupakan contoh dari fitur navigasi daerah. The left picture shows the northern side of a trunk, where darker and more humid micro climatic conditions favour moss growth. Gambar kiri menunjukkan sisi utara batang, di mana lebih gelap dan lebih lembab kondisi iklim mikro mendukung pertumbuhan lumut. The right picture is south, with sunnier and drier conditions, less favourable for moss growth. Gambar yang tepat adalah selatan, dengan kondisi sunnier dan kering, kurang menguntungkan bagi pertumbuhan lumut.
Survival situations are sometimes resolved by finding one's way to safety, or one may need to move to find a more suitable location to wait for rescue. Survival situasi kadang-kadang diselesaikan dengan mencari cara seseorang untuk keselamatan, atau satu mungkin perlu memindahkan untuk menemukan lokasi yang lebih cocok untuk menunggu penyelamatan. The sources observe that to do either of these safely requires some navigation equipment and skills. Sumber amati bahwa untuk melakukan salah satu dari ini aman memerlukan beberapa peralatan navigasi dan keterampilan. Types of navigation include: Jenis navigasi meliputi:
• Celestial navigation , using the sun and the night sky to locate the cardinal directions and to maintain course of travel Celestial navigasi , menggunakan matahari dan langit malam untuk menemukan arah kardinal dan mempertahankan program perjalanan
• Using a map and compass together, particularly a topographic map Menggunakan peta dan kompas bersama-sama, khususnya peta topografi
• " Navigation by observation " of terrain features on a map or otherwise known "Navigasi dengan pengamatan" fitur daerah pada peta atau tidak dikenal
• Using a GPS receiver, if one is available Menggunakan GPS penerima, jika tersedia
• dead reckoning - mati hisab -
In the Northern Hemisphere at mid-day, the sun is directly South of any observer. Di belahan bumi utara pada pertengahan hari, matahari langsung Selatan pengamat apapun. In the Southern Hemisphere at mid-day, the sun is directly North of any observer. Di belahan bumi selatan pada pertengahan hari, matahari langsung Utara pengamat apapun. Mid-day can be calculated by planting a stick or other upright structure in the ground as close to 90 degrees as possible and marking with sticks or rocks or any other feature, as often as possible, the length of the shadow it casts during a single daylight period. Mid-hari dapat dihitung dengan menanam tongkat atau struktur tegak lain di tanah seperti hampir 90 derajat mungkin dan menandainya dengan tongkat atau batu atau fitur lainnya, sesering mungkin, panjang bayangan itu gips selama satu periode siang hari. Wherever the shadow is the shortest during a daylight period, that direction is South if you are in the Northern Hemisphere and that direction is North if you are in the Southern Hemisphere. Di mana pun bayangan yang terpendek selama periode siang hari, arah itu adalah South jika Anda berada di belahan bumi utara dan arah itu adalah North jika Anda berada di belahan bumi selatan. In lieu of a compass or natural terrain features to aid in navigation, this method will give a survivor a generally correct impression of direction. Sebagai pengganti kompas atau fitur terrain alam untuk membantu dalam navigasi, metode ini akan memberikan kesan yang bertahan umumnya arah yang benar. This method of orienteering is not useful when the survivor does not have a pre-existing general impression of his or her local environment (knowing which way is south will not help you if you don't know what should be south of you). Metode orienteering tidak berguna ketika korban tidak memiliki kesan umum yang ada pra-nya lokal atau lingkungan nya (yang mengetahui cara adalah selatan tidak akan membantu Anda jika Anda tidak tahu apa yang harus selatan Anda).
[ edit ] Training [ sunting ] Pelatihan
Survival training has many components, mental competence and physical fitness being two. pelatihan Survival memiliki banyak komponen, kompetensi mental dan kebugaran fisik menjadi dua. Mental competence includes the skills listed in this article, as well as the ability to admit the existence of a crisis, overcome panic, and think clearly. Mental meliputi kompetensi keterampilan yang tercantum dalam artikel ini, serta kemampuan untuk mengakui adanya krisis, mengatasi panik, dan berpikir jernih. Physical fitness includes, among other abilities, carrying loads over long distances on rough terrain. kebugaran fisik meliputi, antara kemampuan lain, membawa beban lebih dari jarak jauh di medan kasar. Theoretical knowledge of survival skills is useful only if it can be applied effectively in the wilderness. Teoritis pengetahuan keterampilan bertahan hidup hanya berguna jika dapat diterapkan secara efektif di padang gurun. Almost all Survival Skills are environment specific and require training in a particular environment. Hampir semua Keterampilan Survival adalah lingkungan yang spesifik dan memerlukan pelatihan dalam lingkungan tertentu.
Survival training may be broken down into three types, or schools; Modern Wilderness Survival, Bushcraft , and Primitive Survival Techniques. Survival pelatihan dapat dipecah menjadi tiga jenis, atau sekolah; Modern Wilderness Survival, Bushcraft , dan primitif Teknik Survival.
Modern Wilderness Survival teaches the skills needed to survive Short-Term (1 to 4 Days) and Medium-Term (4 to 40 Days) survival situations. [ 21 ] Modern Wilderness Survival mengajarkan keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup Jangka Pendek (1 sampai 4 Hari) dan Jangka Menengah (4 sampai 40 Hari) situasi hidup. [21]
" Bushcraft " is the combination of Modern Wilderness Survival and useful Primitive Survival Techniques. "Bushcraft" adalah kombinasi Modern Wilderness Survival dan berguna Primitif Teknik Survival. It normally splits its skill acquisition between Medium-Term Survival Techniques (4 to 40 Days) and Long-Term Survival Techniques (40 Days Plus). [ 22 ] Biasanya membagi perolehan keterampilan yang antara Jangka Menengah Survival Teknik (4 sampai 40 Hari) dan Long-Term Survival Teknik (40 Hari Plus). [22]
Primitive Survival Techniques or "Primitive Living" teaches the skills needed to survive over the Long-Term (40 days plus). Teknik Survival primitif atau "primitif Hidup" mengajarkan keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup selama jangka panjang (40 hari plus). Many primitive technology skills require much more practice and may be more environment specific. [ 23 ] Banyak keterampilan teknologi primitif memerlukan lebih banyak latihan dan mungkin lebih spesifik lingkungan. [23]
Several organizations offer wilderness survival training. Beberapa organisasi menawarkan pelatihan padang gurun bertahan hidup. Course ranges from one day to field courses lasting as long as a month. Kursus berkisar dari satu hari ke program lapangan berlangsung selama sebulan. In addition to teaching survival techniques for conditions of limited food, water, and shelter, many organizations that teach bushcraft and Primitive Survival seek to engender appreciation and understanding of the lifestyles of pre-industrialized cultures. Selain mengajar teknik untuk bertahan hidup kondisi terbatas makanan, air, dan tempat tinggal, banyak organisasi yang mengajarkan bushcraft dan primitif Survival berusaha untuk menimbulkan apresiasi dan pemahaman tentang gaya hidup budaya pra-industri.
There are several books that teach one how to survive in dangerous situations, and schools train children what to do in the event of an earthquake or fire. Ada beberapa buku yang mengajarkan satu cara untuk bertahan hidup dalam situasi yang berbahaya, dan sekolah melatih anak-anak apa yang harus dilakukan dalam kejadian gempa bumi atau kebakaran. Some cities also have contingency plans in case of a major disaster, such as hurricanes or tornadoes. Beberapa kota juga memiliki rencana kontingensi dalam kasus bencana besar, seperti badai atau tornado.
[ edit ] Mental preparedness [ sunting ] kesiapsiagaan Mental
Commentators note that the mind and its processes are critical to survival. Para komentator mencatat bahwa pikiran dan proses yang sangat penting untuk kelangsungan hidup. It is said that the will to live in a life and death situation often separates those that live and those that do not. Dikatakan bahwa kehendak untuk hidup dalam situasi kehidupan dan kematian sering memisahkan orang-orang yang hidup dan orang-orang yang tidak. Stories of heroic feats of survival by regular people with little or no training but a strong will to live are not uncommon. Cerita tentang prestasi heroik untuk bertahan hidup oleh orang-orang biasa dengan sedikit atau tanpa pelatihan tetapi kuat akan hidup yang tidak biasa. Laurence Gonzales in his book Deep Survival: Who Lives, Who Dies and Why describes the story of a young teenage girl named Juliane Köpcke who is the victim of a plane crash in the Amazon jungle. Laurence Gonzales dalam bukunya Deep Survival: Siapa Lives, Siapa Dies dan Mengapa menggambarkan kisah seorang gadis remaja muda bernama Juliane Köpcke yang menjadi korban kecelakaan pesawat di hutan Amazon. With no formal training and wearing only her confirmation clothes, she walked through the jungle for several days with parasitic insects boring under her skin. Tanpa pelatihan formal dan mengenakan satu-satunya konfirmasi pakaian, dia berjalan melalui hutan selama beberapa hari dengan serangga parasit membosankan di bawah kulitnya. After eleven days, with very little food, she reached a hut and collapsed inside. Setelah sebelas hari, dengan makanan yang sangat sedikit, ia mencapai pondok dan runtuh dalam. Three hunters found her the next day and took her to a local doctor. Tiga pemburu ditemukan keesokan harinya dan mengajaknya ke dokter setempat. Of those who survived the crash, she was the only one to make it out alive. Dari mereka yang lolos dari kecelakaan itu, dia adalah satu-satunya untuk bisa keluar hidup-hidup. Gonzales believes that her simple and indestructible will to live made the difference. [ 24 ] Gonzales yakin bahwa dia sederhana dan tidak bisa dihancurkan akan tinggal membuat perbedaan. [24]
So stressful is a true survival situation, that those who appear to have a clear understanding of the stressors, even trained experts, are said to be mentally affected by facing deadly peril. Jadi stres adalah situasi hidup yang benar, bahwa mereka yang tampaknya memiliki pemahaman yang jelas dari stres, bahkan para ahli yang terlatih, dikatakan mental terpengaruh dengan menghadapi bahaya mematikan.
It seems that, to the extent that stress results from testing human limits, the benefits of learning to function under stress and determining those limits may outweigh the downside of stress. Tampaknya, sejauh stres hasil dari pengujian batas-batas manusia, manfaat belajar fungsi di bawah tekanan dan menentukan batas-batas tersebut dapat lebih besar dari downside stres. After all, stress is a natural reaction to adverse circumstances, developed by evolution to assist in survival - at least, in terms of brief, perilous encounters (such as being caught in the middle of a natural disaster, or being attacked by a wild animal.) If stress lingers for a prolonged period of time, it tends to produce the opposite effect, impeding one's ability to survive. Bagaimanapun, stres adalah reaksi alami untuk keadaan yang merugikan, yang dikembangkan oleh evolusi untuk membantu dalam kelangsungan hidup - paling tidak, dalam hal singkat, pertemuan berbahaya (seperti yang tertangkap di tengah-tengah bencana alam, atau diserang oleh binatang liar ) Jika stres tetap hidup untuk jangka waktu lama., ia cenderung untuk menghasilkan efek sebaliknya, menghambat kemampuan seseorang untuk bertahan hidup. In particular, the commentators note the following adverse effects of stress: forgetfulness, inability to sleep, increased propensity to make mistakes, lessened energy, outbursts of rage, and carelessness. [ 25 ] None of these symptoms would seem to make survival easier or more likely. Secara khusus, para komentator perhatikan efek samping stres berikut: lupa, ketidakmampuan untuk tidur, meningkatkan kecenderungan untuk membuat kesalahan, energi berkurang, ledakan amarah, dan kecerobohan. [25] Tidak ada gejala ini akan tampaknya membuat hidup lebih mudah atau lebih mungkin.
EB Motley contends that being faced with a need to survive, there are seven emotions that arise and must be overcome: EB Motley berpendapat bahwa berhadapan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup, ada tujuh emosi yang muncul dan harus diatasi:
• Fear - Once one recognizes a survival situation, one of the initial reactions noted is fear. Ketakutan - Setelah satu mengakui situasi hidup, salah satu reaksi awal dicatat adalah ketakutan. It is said to be a perfectly normal reaction; however, fear is pictured as the enemy - the "mind killer," that can drastically lessen ability to make clear decisions. Hal ini dikatakan reaksi yang normal, namun ketakutan ini digambarkan sebagai musuh - pembunuh pikiran "," yang secara drastis dapat mengurangi kemampuan untuk membuat keputusan yang jelas. This, in turn, is said to lessen the chances for survival. Hal ini, pada gilirannya, dikatakan untuk mengurangi kemungkinan untuk bertahan hidup. In an effort to minimize one's fears, it is suggested to train in realistic situations to condition oneself to have a "hard-wired" positive approach to setting survival priorities and getting busy meeting them. Dalam upaya untuk meminimalkan rasa takut seseorang, disarankan untuk melatih dalam situasi yang realistis untuk kondisi diri untuk memiliki "terprogram" pendekatan positif untuk menetapkan prioritas hidup dan mendapatkan pertemuan sibuk mereka. This trained reaction can instill confidence that one can overcome fear and do what must be done. Reaksi ini terlatih dapat menanamkan kepercayaan bahwa seseorang dapat mengatasi rasa takut dan melakukan apa yang harus dilakukan. As one example, individuals with a phobia of insects, the outside, the darkness, etc. will need to work to overcome these fears enough to perform survival tasks and meet their survival needs, such as gathering firewood in a wilderness setting and sleeping in such a setting. Sebagai salah satu contoh, orang dengan fobia serangga, di luar, kegelapan, dll perlu bekerja untuk mengatasi ketakutan ini cukup untuk melakukan tugas bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti mengumpulkan kayu bakar di padang gurun dan tidur pengaturan sedemikian menetapkan.
• Anxiety – Typically, anxiety and fear appear to run hand-in-hand. Anxiety - Biasanya, kecemasan dan ketakutan muncul untuk menjalankan tangan-di-tangan. Anxiety may start as an uneasy feeling in the pit of one's stomach, but by the time the fears are added into the mix, anxiety may quickly spiral out of control. Anxiety mungkin mulai sebagai perasaan tidak enak di perut seseorang, tapi pada saat ketakutan ditambahkan ke dalam campuran, kecemasan cepat mungkin spiral di luar kendali. Anxiety will often take over the mind and quickly make it difficult to make rational decisions. Kecemasan akan sering mengambil alih pikiran dan cepat membuatnya sulit untuk membuat keputusan yang rasional. Anxiety is portrayed as a serious barrier to focusing on the tasks at hand. Kecemasan digambarkan sebagai penghalang serius untuk fokus pada tugas-tugas di tangan. It is noted that, typically, once some of the critical survival needs have been met, anxiety will be easier to keep at bay. Perlu dicatat bahwa, biasanya, setelah beberapa kebutuhan kritis kelangsungan hidup telah terpenuhi, kecemasan akan lebih mudah untuk tetap di teluk.
• Panic - We are warned that if fear and anxiety are left unchecked, panic will set in. Panic will lead to impulsive actions and loss of self control and may lead to dire consequences, including death. Panic - Kami memperingatkan bahwa jika rasa takut dan kecemasan yang tersisa dicentang, panik akan diatur masuk Panic akan mengakibatkan tindakan impulsif dan hilangnya kontrol diri dan bisa mengakibatkan konsekuensi yang mengerikan, termasuk kematian.
• Anger – One can imagine that it is, more or less, inevitable that in a survival situation there will be problems. Kemarahan - Satu bisa membayangkan bahwa, lebih atau kurang, tak terelakkan bahwa dalam situasi hidup akan ada masalah. With the endless possibilities of things that can go wrong and probably will, it is not surprising to read a prediction that tempers may flare in such a context. Dengan kemungkinan yang tak terbatas dari hal-hal yang bisa salah dan mungkin akan, tidak mengejutkan untuk membaca prediksi bahwa emosi dapat suar dalam konteks seperti itu. But anger, it is said to sap one's energy, rationality, and will to live. Tetapi kemarahan, dikatakan kepada getah energi seseorang, rasionalitas, dan kemauan untuk hidup. Finding other ways to channel this emotion into constructive work will, whether in a long or short term survival situation, seems more useful to the commentators than losing one's temper. Menemukan cara-cara lain untuk menyalurkan emosi ini akan menjadi kerja yang konstruktif, baik dalam situasi yang jangka panjang atau pendek hidup, tampaknya lebih berguna untuk para komentator daripada kehilangan kesabaran seseorang.
• Depression – An overall sense of depression is noted as common in wilderness survival situations, especially if alone. Depresi - Sebuah rasa depresi keseluruhan tercatat sebagai umum dalam situasi survival padang gurun, terutama jika sendirian. Overwhelming depression is said to lead to the body shutting down, and not unlike anxiety, causing one to give up hope. Depresi besar dikatakan menyebabkan tubuh mematikan, dan tidak seperti kecemasan, menyebabkan satu untuk memberikan harapan. Staying positive and staying constructively busy is suggested to combat depression. Tetap positif dan konstruktif tetap sibuk disarankan untuk memerangi depresi. It seems that while humans are physically trying to improve their lives, by means of building a fire, making shelter, gathering water or food, there is less tendency to become depressed. Tampaknya bahwa sementara manusia secara fisik berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka, dengan cara membangun api, membuat tempat berlindung, mengumpulkan air atau makanan, ada kecenderungan kurang untuk menjadi tertekan.
• Guilt – Often accompanying a survival situation is some loss of life. Rasa Bersalah - Seringkali atas situasi hidup adalah beberapa korban jiwa. Those immediately surviving, but still in peril, may feel guilt, we are told, both due to taking responsibility for the death(s) or from a sense of guilt simply because they are alive and the other person is dead. Mereka segera bertahan hidup, tapi masih dalam bahaya, mungkin merasa bersalah, kita diberitahu, baik karena mengambil tanggung jawab atas kematian (s) atau dari rasa bersalah hanya karena mereka masih hidup dan orang lain sudah mati. This is called survivor's guilt . Ini disebut 's rasa bersalah yang selamat . The commentator's note that such a state of mind should be combated by maintaining a positive outlook, and possibly using religion to help deal with the pain following another's death. Para komentator itu diketahui bahwa pada keadaan pikiran harus diperangi dengan mempertahankan pandangan positif, dan mungkin menggunakan agama untuk membantu mengatasi rasa sakit yang berikut lain kematian.
• Boredom and Loneliness – An often unanticipated side effect of being in a survival situation, boredom and loneliness are both said to contribute to lowering morale. Kebosanan dan Kesepian - Sebuah efek samping yang tak terduga sering berada di situasi hidup, kebosanan dan kesepian keduanya berkata untuk memberikan kontribusi terhadap rendahnya moral. The commentators suggest that it is important that the survivor keep his or her mind busy and spirits up. Para komentator bahwa adalah penting bahwa korban keep pikirannya sibuk dan roh naik.
[ 26 ] [26]
[ edit ] Survival manuals [ sunting ] Survival manual
A survival manual is a book used as reference in situations where a human's survival is threatened - expected or unexpected. Sebuah pedoman hidup adalah sebuah buku yang digunakan sebagai acuan dalam situasi di mana kelangsungan hidup manusia terancam - diharapkan atau tidak terduga. Typically it will cover both preparation and guidance for dealing with eventualities. Biasanya itu akan mencakup keduanya penyusunan dan bimbingan untuk menghadapi eventualities.
There are many different types of survival manuals, but most have a section of standard advice. Ada berbagai jenis buku pedoman hidup, tetapi sebagian besar bagian dari nasihat standar. These are sometimes republished for public distribution: for example the SAS Survival Handbook , United States Army Survival Manual (FM 3-05.70) and United States Air Force Survival Manual (AF 64-4) . Ini kadang-kadang ulang untuk distribusi publik: misalnya SAS Survival Handbook, Angkatan Darat Amerika Serikat Survival Manual (FM 3-05.70) dan Angkatan Udara Amerika Serikat Survival Manual (AF 64-4).
Other manuals have been written for more specific uses, such as wilderness or maritime survival. manual lainnya telah ditulis untuk keperluan yang lebih spesifik, seperti padang gurun atau maritim kelangsungan hidup.
Much of today's teaching principles on survival are derived from the work of SAS Survival Instructor Lofty Wiseman . Sebagian besar hari ini mengajarkan prinsip-prinsip pada kelangsungan hidup berasal dari karya SAS Survival Instructor penyesalan Wiseman .
Lofty Wiseman's book has also been converted into the SAS Survival Guide - iPhone App [ 27 ] for handy reference Wiseman buku penyesalan juga telah dikonversi menjadi SAS Survival Guide - iPhone App [27] untuk referensi berguna

Renungan Bangsa Indonesia



Pramuka Indonesia teguh memegang janji
janji terhadap ibu pertiwi
untuk mengabdi dan berbakti

Lihatlah negara kita sedang dilanda bencana
Lihatlah negara kita sedang dilanda kerusuhan
korban disana-sini, tangisan meratap-ratap
siapa yang harus disalahkan

Sebagai pemuda harapan bangsa (TNI, POLRI, ORMAS, ORG.Kepemudaan, Pramuka, Dll) marilah kita bersatu
himpun tenaga dan pikiran untuk membantu yang kesusahan
jangan mudah terpropokasi oleh pihak lain
negara membutuhkan kita

Ingatlah Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka
Ingatlah akan janji masing-masing
untuk siapa janji itu kita ucapkan
jaga ucapan, pikiran dan perbuatan
karena tiga hal itu yang bisa mengakibatkan kekacauan, kebutralan, kesombongan, keangkuhan, kedengkian dan kebencian
masyarakat kita, bangsa kita, negara kita tidak mungkin akan aman dan damai
jika sikap kita, amarah kita, perkataan kita tidak bisa menjaganya



Ayo para pemuda dan pemudi khususnya Pramuka Indonesia
marilah singsingkan lengan baju,
perlihatkan kinerja kita, perlihatkan pengabdian kita
dari yang terkecil dan dari yang terdekat kita
Lihatlah sekitar kita apakah disekitar kita sudah aman, nyaman, dan tentram ?
Jika sudah maka negara kita bisa di katakan makmur ...

Bravo Pramuka Indonesia

PENANAMAN BELA NEGARA SEJAK DINI

SDN Cibabat Mandiri 2 dalam rangka menumbuhkan semangat patriotisme dan bela negara pada siswanya menyelenggarakan pembinaan khusus yang menunjang pada hal tersebut, hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya agar siswa dapat menghargai jerih payah para pahlawan pada jaman kemerdekaan. Pembinaan ini termotivasi atas bantuan dan dorongan dari para orang tua/wali siswa yang senantiasa memberikan resfon positif terhadap kemajuan SDN Cibabat Mandiri 2 Kota Cimahi ini.
Pembentukan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) merupakan suatu wujud nyata terhadap menanamkan kecintaan dan sikap patriotisme terhadap bangsa dan negara Indonesia. Dengan dapatnya siswa mengibarkan/menurunkan bendera dengan baik, maka patriotisme dalam jiwanya pun akan tumbuh, serta dengan menjaga atribut-atribut kenegaraan merupakan suatu sikap yang harus ditanamkan semenjak dini pada siswa di sekolah.

PHOTO KEGIATAN BELA NEGARA PADA SISWA DI SDN CIBABAT MANDIRI 2














Peringatan Sumpah Pemuda ke 81 tahun 2009

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 81 Tahun 2009, SDN Cibabat Mandiri 2 menyelenggarakan Upacara Peringatan sendiri dengan hidmat dan lancar. Pembina Upacara (Dra. Etit Rostipah,M.Pd/Seksi Kurikulum) dalam amanatnya mengatakan bahwa : Siswa-siswi SDN Cibabat Mandiri 2 sebagai penerus perjuangan para pemuda dahulu, harus bersatu padu untuk mewujudkan Cita-cita para pejuang dengan cara belajar yang baik. selain dari pada itu beliau mengatakan Persatuan dan Kesatuan Bangsa seperti yang tersebut dalam isi Sumpah Pemuda merupakan harga mati."











1. Petugas Upacara
2. Pen.Up (Novi Kusmiati) sedang laporan
3. Pasukan 8 pengibar bendera
4. Vormasi Pengibar Bendera MP
5. Penyerahan Bendera kepada Petugas Pengibar bendera
6. Bentangan Bendera (Rema, Dea, dan Mayang)
7. Petugas Pembaca Teks Pembukaan UUD'45 (Aaz) dan Teks Sumpah Pemuda (Pipiet)
8. Pembacaan Teks didepan Pembina Upacara
9. Pembaca Doa' (Mohammad Farid)
10. Petugas Bendera berpoto bersama Pelatih (Endang Ahmad, MS)